Klasifikasi
:
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dycotyledoneae
Sub Kelas : Dialypetalae
Bangsa : Geraniales/ Gruinales
Famili : Oxalidaceae
Genus : Biophytum
Spesies : Biophytum sensitivum D
C.
|
Nama Daerah
Melayu: Daun hidup
Sunda: Ki payung kalapaon Jawa: Tengah Krambilan Ternate: Golofino Halmahera: Gogiolo |
Ciri-ciri
Habitus: Herba, tinggi 5-20 cm. Batang: Bulat, tak bercabang,
merati muda. Daun: Majemuk, menyirip, dalam roset batang, anak daun
empat sampai sepuluh pasang, ujung tumpul, bertepi rata, pangkal tumpul,
tangkai 5-20 mm, hijau. Bunga: Majemuk, pada ujung batang,
kelopak + 5 mm, bertaju lima, ungu, mahkota ± 5 mm, kuning dengan ujung merah. Buah:
Kotak, bulat, kecil, hijau. Biji: Kecil, masih muda putih setelah tua
coklat. Akar: Tunggang, coklat.
Referensi :
Gembong
Tjitrosoepomo.1989.Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta
http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=110
Van Steenis, C.G.G.J,
1975, Flora untuk Sekolah di
Indonesia, PT Pradnya Paramita, Jakarta.
|
Rabu, 04 April 2012
Krambilan/ Biophytum sensitivum D C.
Simpur/ Dillenia indica L.
Klasifikasi
:
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dycotyledoneae
Sub Kelas : Dialypetalae
Bangsa :Guttiferales/ Clusiales
Famili :Dilleniaceae
Genus : Dillenia
Spesies : Dillenia indica L.
|
Nama umum
|
||||||||||
Gambar Susunan Daun
Gambar Kuncup Bunga
|
Gambar Bunga
Gambar Buah
|
Senin, 02 April 2012
Daun Encok/ Plumbago zeylanica L.
Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Sympetalae
Bangsa : Plumbaginales
Famili : Plumbaginaceae
Genus : Plumbago
Spesies : Plumbago zeylanica L.
|
|
|
Uraian
:
Tumbuhan
ini berasal dari Sri Lanka, kemudian menyebar ke seluruh kawasan tropik,
termasuk Indonesia dan kepulauan Pasifik. Daun encok tumbuh liar di ladang, di
tepi saluran air atau ditanam di pekarangan sebagai pagar hidup dan
tempat-tempat lainnya sampai setinggi + 800 m dpi. Perdu tahunan yang menaik,
berbatang panjang, tinggi 0,6 - 2 m. Batang berkayu, bulat, licin, beralur,
bereabang. Daun tunggal, letak berseling, bertangkai yang panjangnya 1,5 - 2,5
cm, pangkal tangkai daun agak melebar, memeluk batang. Daun bulat telur sampai
jorong, panjang 5 - 11 cm, lebar 2 - 5 cm, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi
beringgit, pertulangan menyirip, wamanya hijau. Bunga majemuk dalam tandan yang
keluar di ujung tangkai, kecil-kecil, berambut, berwarna putih. Buah kecil, bulat panjang, masih muda
hijau, setelah tua hitam. Biji kecil, cokelat. Perbanyakan dengan biji atau
setek.
|
Nama Lokal : Daun encok, ki encok (Sunda), ceraka (Sumatera); Bama, godong encok, poksor (Jawa). kareka (Madura); Bama (Bali), oporie (Timor). ; Agni, chitra, chitraka (India, Pakistan),; Ceylon leadwort, white flowered leadwort (Inggris).
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Daun encok bersifat pahit, tonik, dan beracun. KANDUNGAN KIMIA : Daun mengandung plumbagin, 3-3-biplumbagin, 3-chloroplum- bagin, chitranone (3-6-biplumbagin), dan droserone (2-hydroxy plum- bagin). Zat berkhasiatnya yang bernama plumbagin sangat beracun dan pada pemakaian lokal dapat menyebabkan kerusakan kulit berupa lepuh seperti luka bakar. Efek Farmakologis dan hasil Penelitian : Pemberian sari akar daun encok dalam alkohol 50% dengan dosis 100 mglkg bb dan 150 mglkg bb yang diberikan secara oral pada mencit betina, mempunyai efek antifertilitas dan abortivum (Sariati Sirait, Jurusan Farmasi, FMIPA USU, 1990).
sumber :
www.ipteknet.id
www.plantamor.com/
|
Langganan:
Postingan (Atom)







