Sabtu, 31 Desember 2011

Bunga pukul delapan (Turnera subulata J.E.Smith)

Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Violales
Famili : Turneraceae
Genus : Turnera
Spesies : Turnera subulata J.E.Smith


Deskripsi :
Bunga pukul delapan merupakan tanaman hias (ornamental plant) yang juga merupakan tanaman obat (medicinal plant). Tanaman yang berasal dari Hindia barat ini dapat ditemukan pada ketinggian 10-250m diatas permukaan laut. Tinggi tanaman ini sekitar 60-90 cm. Daun tanaman berbentuk elips dengan ujung meruncing dan tepi daun bergerigi kasar. Tulang daun menyirip dan mempunyai kelenjar. Daun berwarna hijau dengan panjang daun 2-7 cm dan lebar 1-4 cm dan diklasifikasikan berdaun tunggal. Mahkota bunga bentuknya bulat telur sungsang, pangkalnya berwarna coklat dan berwarna kuning muda diatasnya. Mahkota bunga terpuntir waktu kuncup. Bunganya, yang seperti di foto bunga diatas ini, mekar hanya beberapa jam saja, mulai dari sekitar jam 8 pagi sampai sekitar jam 12 siang. Bunga tanaman ini ada yang berwarna kuning (Yellow Alder, yellow elder (Inggris)). Buah tanaman ini berbentuk telur lebar dengan biji lebih dari 30.

Perawatan: Tanaman ini menyukai tempat terbuka, atau terlindung sebagian. 
Budidaya: Perbanyak tanaman ini dengan biji.
Kandungan Kimia : Daun dan batang mengandung saponin dan polifenol. Daunnya juga mengandung flavonoid.
Sifat dan Khasiat : Rasanya pahit, pedas, sifatnya hangat. Bunga pukul delapan berkhasiat tonik dan melancarkan aliran darah.
Bagian yang Digunakan :
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah daun dan akarnya.

Resep Herbal Bunga Pukul Delapan
Rematik sendi disertai bengkak, bengkak akibat memar
Cuci akar segar bunga pukul delapan, lalu potong-potong seperlunya. Rebus dengan tiga gelas air sampai airnya tersisa satu gelas. setelah dingin, saring, lalu minum sehari dua kali, masing-masing setengah gelas.
Bisul, bengkak dan memar
Tumbuk daun segar secukupnya, tambahkan kapur sirih secukupnya, lalu aduk rata. Tempelkan pada bisul atau bagian tubuh yang bengkak dan memar, lalu balut.

Referensi :
Dalimartha, dr. Setiawan, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, jilid 5 (Jakarta: Pustaka Bunda, 2008)
Gembong Tjitrosoepomo.1989.Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).Gadjah Mada University    Press.Yogyakarta
Van Steenis, C.G.G.J, 1975, Flora untuk Sekolah di Indonesia, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Daun duduk (Desmodium triquetrum [L.] D.C.)

a. Klasifikasi :


Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Dialypetalae
Bangsa : Rosales
Famili : Fabaceae/ leguminosae
Sub Famili : Papilionaceae
Genus : Desmodium
Spesies : Desmodium triquetrum (L.) D.C






 

b. Deskripsi :
Daun duduk dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 1.500 m dpl. tumbuh liar di tempat terbuka dengan cahaya matahari yang cukup atau sedikit naungan, serta tidak begitu kering. Perdu menahun, tumbuh tegak atau menanjak, tinggi 0,5 - 3 m, dengan kaki yang berkayu. Batang bulat, beruas, permukaan kasar, percabangan simpodial, diameter 2 cm, cokelat. Daun tunggal, berseling, berdaun penumpu, tangkai daun bersayap lebar. Helaian daun lanset, ujung meruncing, pangkal rata, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 20 cm, lebar 1,5 - 2 cm, masih muda cokelat, setelah tua hijau. Bunga majemuk, malai, keluar dari ujung batang, mahkota berbentuk kupu-kupu warnanya putih keunguan, berambut halus, pangkal berlekatan. Buah polong, panjang 2,5 - 3,5 cm, lebar 4 - 6 mm, berambut, berisi 4 - 8 biji, masih muda hijau, setelah tua cokelat. Biji kecil, bentuk ginjal, warnanya cokelat muda. Perbanyakan dengan biji.

c. Nama Lokal :
Genteng cangkeng, ki congcorang, potong kujang,; cen-cen (Sunda), ), daun duduk, sosor bebek, gulu walang,; Gerji,cocor bebek (Jawa). daun duduk (Sumatera); Three-flowered desmodium (Inggris).

d. Penyakit Yang Dapat Diobati :
Mencegah pingsan (heat stroke), demam,salesma, disentri, wasir,; Radang amandel (tonsilitis), gondongan (parotitis), skleroderma,; Lelehan nanah (piorea), radang ginjal akut (acute nephritis), ; Sembab (edema), radang usus (entiris), muntah pada kehamilan,; Infeksi cacing tambang (hookworm), infeksi cacing pita di hati,; Keputihan akibat trichomonas (trichomonal vaginitis), rematik,; Sakit kuning (ikterik hepatitis), TBC tulang dan kelenjar limfa,; Kurang gigi pada anak, keracunan buah nanas, multipel abses.

e. Kandungan Kimia
Daun tumbuhan ini mengandung tanin, alkaloida hipaforin, trigonelin, bahan penyamak, asam silikat, dan K2O. Buahnya mengandung saponin, dan flafonoida, sedangkan akar mengandung saponin, flavonida dan tanin.

Referensi : 

Gembong Tjitrosoepomo.1989.Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).Gadjah Mada University    Press.Yogyakarta

http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=110

Van Steenis, C.G.G.J, 1975, Flora untuk Sekolah di Indonesia, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Nangka (Artocarpus heterophyllus)


a. Klasifikasi :

Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Apetalae
Bangsa :Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Artocarpus
Spesies : Artocarpus heterophyllus




b. Deskripsi
Pohon, tinggi 10-15 m. Batang simpodial, hijau kotor. Pangkal daun tumpul, panjang 5-15 cm, lebar 4-5 cm, tangkai panjang + 2 cm, hijau. Bunga majemuk, bentukbulir, sllindris, berkelamin dua, di ketiak daun, tangkai bulat memanjang, hijau,bulir betina silindris, ujung berpon-pori, kepala putik pipih. Buah buni bulat atau lonjong, hijau kekuningan. Biji bulat telur, berkulit tipis, putih. Akar tunggang, kuning kecoklatan.

Nangka adalah nama sejenis pohon, sekaligus buahnya. Pohon nangka termasuk ke dalam suku Moraceae; nama ilmiahnya adalah Artocarpus heterophyllus. Dalam bahasa Inggris, nangka dikenal sebagai jackfruit.

Pohon nangka umumnya berukuran sedang, sampai sekitar 20 m  tingginya, walaupun ada yang mencapai 30 meter. Batang bulat silindris, sampai berdiameter sekitar 1 meter. Tajuknya padat dan lebat, melebar dan membulat apabila di tempat terbuka. Seluruh bagian tumbuhan mengeluarkan getah putih pekat apabila dilukai.

Daun tunggal, tersebar, bertangkai 1-4 cm, helai daun agak tebal seperti kulit, kaku, bertepi rata, bulat telur terbalik sampai jorong (memanjang), 3,5-12 × 5-25 cm, dengan pangkal menyempit sedikit demi sedikit, dan ujung pendek runcing atau agak runcing. Daun penumpu bulat telur lancip, panjang sampai 8 cm, mudah rontok dan meninggalkan bekas serupa cincin.

Tumbuhan nangka berumah satu (monoecious), perbungaan muncul pada ketiak daun pada pucuk yang pendek dan khusus, yang tumbuh pada sisi batang atau cabang tua. Bunga jantan dalam bongkol berbentuk gada atau gelendong, 1-3 × 3-8 cm, dengan cincin berdaging yang jelas di pangkal bongkol, hijau tua, dengan serbuk sari kekuningan dan berbau harum samar apabila masak. Bunga nangka disebut babal. Setelah melewati umur masaknya, babal akan membusuk (ditumbuhi kapang) dan menghitam semasa masih di pohon, sebelum akhirnya terjatuh. Bunga betina dalam bongkol tunggal atau berpasangan, silindris atau lonjong, hijau tua.

Buah majemuk (syncarp) berbentuk gelendong memanjang, seringkali tidak merata, panjangnya hingga 100 cm, pada sisi luar membentuk duri pendek lunak. 'Daging buah', yang sesungguhnya adalah perkembangan dari tenda bunga, berwarna kuning keemasan apabila masak, berbau harum-manis yang keras, berdaging, kadang-kadang berisi cairan (nektar) yang manis. Biji berbentuk bulat lonjong sampai jorong agak gepeng, panjang 2-4 cm, berturut-turut tertutup oleh kulit biji yang tipis coklat seperti kulit, endokarp yang liat keras keputihan, dan eksokarp yang lunak. Keping bijinya tidak setangkup.

Nangka terutama dipanen buahnya. "Daging buah" yang matang seringkali dimakan dalam keadaan segar, dicampur dalam es, dihaluskan menjadi minuman (jus), atau diolah menjadi aneka jenis makanan daerah: dodol nangka, kolak nangka, selai nangka, nangka-goreng-tepung, keripik nangka, dan lain-lain. Nangka juga digunakan sebagai pengharum es krim dan minumnan, dijadikan madu-nangka, konsentrat atau tepung. Biji nangka, dikenal sebagai "beton", dapat direbus dan dimakan sebagai sumber karbohidrat tambahan.

Buah nangka muda sangat digemari sebagai bahan sayuran. Di Sumatera, terutama di Minangkabau, dikenal masakan gulai nangka. Di Jawa Barat buah nangka muda antara lain dimasak sebagai salah satu bahan sayur asam. Di Jawa Tengah dikenal berbagai macam masakan dengan bahan dasar buah nangka muda (disebut gori), seperti sayur lodeh, sayur megana, oseng-oseng gori, dan jangan gori (sayur nangka muda). Di Jogyakarta nangka muda terutama dimasak sebagai gudeg. Sementara di seputaran Jakarta dan Jawa Barat, bongkol bunga jantan (disebut babal atau tongtolang) kerap dijadikan bahan rujak.

Daun-daun nangka merupakan pakan ternak yang disukai kambing, domba maupun sapi. Kulit batangnya yang berserat, dapat digunakan sebagai bahan tali dan pada masa lalu juga dijadikan bahan pakaian. Getahnya digunakan dalam campuran untuk memerangkap burung, untuk memakal (menambal) perahu dan lain-lain.

Kayunya berwarna kuning di bagian teras, berkualitas baik dan mudah dikerjakan. Kayu ini cukup kuat, awet dan tahan terhadap serangan rayap atau jamur, serta memiliki pola yang menarik, gampang mengkilap apabila diserut halus dan digosok dengan minyak. Karena itu kayu nangka kerap dijadikan perkakas rumah tangga, mebel, konstruksi bangunan, konstruksi kapal sampai ke alat musik. Dari kayunya juga dihasilkan bahan pewarna kuning untuk mewarnai jubah para pendeta Buddha.

Daun tanaman ini jg di rekomendasikan oleh pengobatan ayurveda sebagai obat antidiabetes karena ekstrak daun nangka memberi efek hipoglikemi (Chandrika, 2006). Selain itu daun pohon nangka juga dapat digunakan sebagai pelancar ASI, borok (obat luar), dan luka (obat luar). Daging buah nangka muda (tewel) dimanfaatkan sebagai makanan sayuran yang mengandung albuminoid dan karbohidrat. Sementara biji nangka dapat digunakan sebagai obat batuk dan tonik (Heyne. K, 1987). Biji nangka dapat diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai bahan baku industri makanan (bahan makan campuran). Khasiat kayu sebagai anti spasmodic dan sedative, daging buah sebagai ekspektoran, daun sebagai laktagog. Kayu nangka dianggap lebih unggul daripada jati untuk pembuatan meubel, konstruksi bangunan pembubutan, tiang kapal, untuk tiang kuda dan kandang sapi, dayung, perkakas, dan alat musik. Getah kulit kayu juga telah digunakan sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. Pohon nangka dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kandungan kimia dalam kayu adalah morin, sianomaklurin (zat samak), flavon, dan tanin. Selain itu, dikulit kayunya juga terdapat senyawa flavonoid yang baru, yakni morusin, artonin E, sikloartobilosanton, dan artonol B (Ersam T, 2001). Bioaktivitasnya terbukti secara empiric sebagai antikanker, antivirus, antiinflamasi, diuretil, dan antihipertensi (Ersam T, 2001).

c. Syarat Pertumbuhan
  1. Iklim
Angin berperan dalam membantu penyerbukan bunga pada tanaman nangka.. Pohon nangka cocok tumbuh di daerah yang memilki curah hujan tahunan ratarata 1.500-2.500 mm dan musim keringnya tidak terlalu keras. Nangka dapat tumbuh di daerah kering yaitu di daerah-daerah yang mempunyai bulan-bulan kering lebih dari 4 bulan Sinar matahari sangat diperlukan nangka untuk memacu fotosintesa dan pertumbuhan, karena pohon ini termasuk intoleran. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan terganggunya pembentukan bunga dan buah serta pertumbuhannya. Rata-rata suhu udara minimum 16-21 derajat C dan suhu udara maksimum 31- 31,5 derajat C. Kelembaban udara yang tinggi diperlukan untuk mengurangi penguapan.

  1. Media Tanam
Pohon nangka dipelihara di berbagai tipe tanah, tetapi lebih menyenangi aluvial, tanah liat berpasir/liat berlempung yang dalam dan beririgasi baik. Umumnya tanah yang disukai yaitu tanah yang gembur dan agak berpasir. Pohon ini hidup pada tanah tandus sampai subur dengan kondisi reaksi tanah asam sampai alkalis. Bahkan pada tanah gambutpun pohon ini dapat tumbuh dan menghasilkan buah. Pohon nangka tahan terhadap pH rendah (tanah masam) dengan pH 6,0-7,5, tetapi yang optimum pH 6–7. Kedalaman air tanah yang cocok bagi pertumbuhan nangka adalah 1-2 m atau antara 1-2.5 m. Karena perakarannya sangat dalam, maka sebaiknya ditanam pada tanah yang cukup teball lapisan atasnya (kira-kira 1 m).

  1. Ketinggian Tempat
Pohon nangka dapat tumbuh dari mulai dataran rendah sampai ketinggian tempat 1.300 m dpl. Namun ketinggian tempat yang terbaik untuk pertumbuhan nangka adalah antara 0-800 m dpl.

d. Mikroskopik
Pada penampang melintang kayu tampak xylem dengan jari-jari empulur terdiri dari 2 sampai 3 baris sel; pembuluh kayu dengan trakea besar umumnya berkelompok, kadang-kadang tunggal. Parenkim xylem, dinding bernoktah; serabut berisi hablur kalium oksalat berbentuk prisma. Serbuk berwarna coklat kekuningan. Fragmen pengenal adalah trake lebar, dinding bernoktah; pembuluh kayu dengan penebalan dinding seperti tangga atau jala; perenkim bernoktah; serabut panjang; dinding tebal, lumen lebar, ujung runcing; jari-jari teras bernoktah.


Hortensia (Hydrangea macrophylla)

Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Dialypetalae
Bangsa : Rosales
Famili : Hydrangeaceae
Genus : Hydrangea
Spesies : Hydrangea macrophylla






















Hortensia (Hydrangea) adalah nama genus dari 70-75 spesies tumbuhan berbunga yang berasal dari Asia Timur dan Asia Selatan (Jepang, Tiongkok, Himalaya, Indonesia), Amerika Utara dan Amerika Selatan. Sebagian besar spesies berasal dari Jepang dan Tiongkok. Tanaman semak dengan tinggi 1-3 meter, tapi ada juga yang merambat di tanaman lain hingga mencapai ketinggian 30 meter. Daun berbentuk bulat telur, tepi beringgit, warna hijau muda berkilau. Selain dari spesies yang tumbuh di daerah beriklim sejuk yang memiliki sifat menggugurkan daun (deciduous), sebagian besar spesies merupakan tanaman yang berdaun hijau sepanjang tahun (evergreen). Tanaman ini bersifat asam. Tanaman ini beracun bila dimakan karena mengandung glukosida karsiogenik.

Bunga Hortensia dapat berubah-ubah warnanya jika diberi pupuk yang berbeda. Masyarakat Jawa Barat menjulukinya sebagai kembang Pancawarna.Bunga Hortensia memiliki nama ilmiah Hydrangea macrophylla.sebenarnya berasal dari Jepang, tepatnya di Pulau Honshu, namun kemudian menyebar ke belahan dunia lain dan menjadi terkenal di Amerika Serikat, Eropa Barat selain di kampung halamannya sendiri..Ini dikarenakan jenis bunga ini mmudah hidup di berbagai iklim dan juga mudah pengembangbiakannya. Tanaman ini menyukai tempat yang sejuk dengan kelembaban yang cukup dan rada terpayungi.Bunganya berupa gugusan bunga-bunga tunggal. Kelopak bunganya sangat istimewa ,karena lebih dominan daripada mahkota bunganya. 

Di Indonesia, Hortensia juga dikenal dengan nama Kembang Bokor, sedangkan dalam bahasa Melayu dikenal dengan nama Bunga Tiga Bulan. Perbungaan majemuk, berbentuk malai, keluar dari ujung tangkai, membentuk rangkaian membulat seperti sanggul, di daerah beriklim sejuk mekar di awal musim semi hingga akhir musim gugur. Pada sebagian spesies, malai terdiri dari 2 jenis bunga, kelompok bunga yang fertil di tengah malai dan bunga-bunga steril yang berukuran lebih besar terangkai membentuk lingkaran. Ada juga spesies yang memiliki bunga yang semuanya fertil dan bentuknya sama. Pada tanaman ini yang terlihat seperti daun mahkota sebenarnya adalah daun kelopak.

Jenis hydrangea yang dapat berubah warna, hanya strain tertentu, yaitu yang kelopak bunganya berwarna merah, biru atau kombinasi merah dan biru. Sebenarnya pergantian warna bunga diakibatkan faktor logam berat aluminium pada kelopak bunga dan ketersediaan pigmen antosianin pada kelopak bunga.
1.Bunga Hydrangea berwarna merah campur biru pada pH tanah 4,7 – 6,1.
2. Bunga menjadi merah jika pH tanah 6,1
3.Bunga menjadi biru jika pH tanah 4,7
Sedangkan hydrangea berkelopak putih tidak mengandung antosianin (pigmen warna bunga) sehingga tidak dapat berubah warna, apapun pH tanah habitatnya.

Untuk memperoleh bunga berkelopak biru muda, tanah tempat tumbuh harus memiliki pH antara 5,0-5,5. Kalau menginginkan warna lembayung muda, pH tanah harus 5,8 –b 6,0 sedang untuk merah muda, pH antara 6-6,2. Pada masa pertumbuhan sebaiknya pH dipatok antara 5,5-6,0 Jika ingin kelopak menjadi biru, tinggal diberi pupuk yang mengandung sulphur, seperti ZA ataupun KCL untuk menurunkan PH. Selain cara itu, bisa juga dengan pupuk majemuk yang memiliki kandungan fosfor sedikit namun kalium tinggi. Jika tanah habitatnya miskin aluminium, sebaiknya mendekati masa berbunga ditambahkan aluminium berbentuk amonium aluminium atau kalium aluminium.

Warna merah kelopak dapat diperoleh dengan menaburkan kapur tumbuk dolomite agar pH tanah naik. Atau memberikan pupuk majemuk dengan kadar kalium dan fosfor imbang.Untuk mengukur kadar keasam-basa-an tanah dapat menggunakan kertas lakmus, ataupun dengan larutan penguji yang bisa diperoleh di toko kimia. Tanah kering sample diambil segenggam dan ditetesi larutan penguji, hasilnya dicocokan dengan gradasi warna pada kartu penguji.

Bunga berwarna putih pada sebagian besar spesies, tapi beberapa spesies terutama H. macrophylla mempunyai bunga yang bisa berwarna biru, merah, merah jambu, atau ungu bergantung pada tingkat pH tanah. Sewaktu masih kuncup, bunga berwarna hijau, berubah menjadi putih, sewaktu mekar berwarna biru muda atau merah jambu yang secara bertahap berubah menjadi warna-warna yang lebih tua tua (biru tua atau merah) sebelum bunga rontok. Tanah yang bersifat asam menghasilkan bunga berwarna biru, tanah dengan pH normal menghasilkan bunga berwarna putih krem, dan tanah yang bersifat basa menghasilkan bunga berwarna merah jambu atau ungu. Hortensia merupakan salah satu dari tanaman yang pada daun bunga mengumpulkan unsur aluminium yang dilepaskan tanah yang bersifat asam sehingga bunga menjadi berwarna biru.


Jumat, 30 Desember 2011

NAMA ILMIAH TUMBUHAN

JENIS TANAMAN
NAMA TANAMAN
NAMA ILMIAH
Tanaman Pohon
Banyan
Ficus benghalensis
Bayur Jantan
Pterospermum diversifolium
Bintangur
Calophyllum inophyllum
Cemara Gunung
Casuarina junghuniana
Cemara Kipas
Thuja orientalis
Cemara Laut
Casuarina equisetifolia
Drewak
Microcos paniculata
Jati
Tectona grandis
Kigelia
Kigelia africana
Kilalayu
Erioglossum rubiginosum
Kiputri
Podocarpus neriifolius
Kopo
Syzygium cymosum
Mahoni
Swietenia mahagoni
Roseo Alba
Tabebuia roseo-alba
Saman
Samanea saman
Tanjung
Mimusops elengi
Wangkal
Albizia procera
Waru Gunung
Hibiscus macrophyllus
Tanaman Peneduh
Akasia Mutiara
Acacia podalyriifolia
Akasia
Acacia auriculiformis
Asam Jawa
Tamarindus indica
Bintaro
Cerbera odollam
Dadap Merah
Erythrina crista-galli
Flamboyan
Delonix regia
Glodokan
Polyalthia longifolia
Kalistemon
Callistemon viminalis
Kembang Merak
Caesalpinia pulcherrima
Kersen
Muntingia calabura
Kol Banda
Pisonia alba
Kordia
Cordia sebestena
Saman
Samanea saman
Tanjung
Mimusops elengi
Ground Cover
Bunga Balon
Platycodon grandiflorus
Kacang Hias
Arachis pintoi
Calincing/ Belimbing Tanah
Oxalis barrelieri L.
Tanaman Bunga
Ambre
Pelargonium x hortorum
Anyelir
Dianthus caryophyllus
Asoka
Saraca indica
Azalea Putih
Rhododendron mucronatum
Azalea Ungu
Rhododendron pulchrum
Boroco
Celosia argentea
Bugenvil
Bougainville spectabilis
Bugenvil
Bougainville glabra
Bunga Jepun
Nerium oleander
Bunga Kana
Canna indica
Bunga Krisan
Chrysanthemum x grandiflorum
Bunga Krisan
Chrysanthemum maximum
Bunga Matahari
Helianthus annuus
Bunga Pagoda
Clerodendron paniculatum
Bunga Pukul Empat
Mirabilis jalapa
Cantik Manis
Portulaca grandiflora
Cocok Botol
Tagetes erecta
Dahlia
Dahlia pinnata
Flamboyan
Delonix regia
Herbras
Gerbera jamesonii
Hortensia
Hydrangea macrophylla
Jengger Ayam
Celosia cristata
Kamboja Jepang
Adenium obesum
Kembang Anting-anting
Fuchsia speciosa
Kembang Kertas
Zinnia elegans
Kembang Merak
Caesalpinia pulcherrima
Kembang Sepatu
Hibiscus rosa-sinensis
Kembang Sungsang
Gloriosa superba
Kordia
Cordia sebestena
Lasiandra
Tibouchina semidecandra
Mawar Apel
Rosa villosa
Melati
Jasminum sambac
Nona Makan Sirih
Clerodendrum thomsonae
Nusa Indah
Mussaenda philippica
Petunia
Petunia hybrida
Pisang Hias
Heliconia colinsiana
Soka
Ixora coccinea
Stepanot Ungu
Pseudocalymma alliaceum
Tapak Dara
Catharanthus roseus
Violces
Saintpaulia ionantha
Wijaya Kusuma
Epiphyllum oxypetalum
Yellow Saraca
Saraca thaipingensis
Tanaman Pangan
Cantel
Sorghum bicolor
Hanjeli
Coix lacryma-jobi
Jagung
Zea mays
Kacang Hijau
Phaseolus radiatus
Kentang
Solanum tuberosum
Padi
Oryza sativa
Sagu
Metroxylon sagu
Suweg
Amorphophallus campanulatus
Ubi Jalar
Ipomoea batatas


Tumbuhan Beracun
Alamanda
Allamanda cathartica
Bintaro
Cerbera odollam
Bunga Jepun
Nerium oleander
Bunga Pukul Empat
Mirabilis jalapa
Ginje
Thevetia peruviana
Herba Mala
Euphorbia cotinifolia
Jarak Kepyar
Ricinus communis
Kastuba
Euphorbia pulcherrima
Kembang Sungsang
Gloriosa superba
Kiapu
Pistia stratiotes
Lidah Buaya
Aloe vera
Mahkota Duri
Euphorbia milii
Mindi
Melia azedarach
Palem Botol
Hyophorbe lagenicaulis
Philodendron
Philodendron selloum
Puring
Codiaeum variegatum
Tahi Ayam
Lantana camara
Tapak Dara
Catharanthus roseus
Tembakau
Nicotiana tabacum


Tumbuhan Aroma
Cempaka Cina
Artabotrys odoratissimus
Cempaka Putih
Michelia alba
Gaharu
Aquilaria moluccensis
Kemuning
Murraya paniculata
Kenanga
Cananga odorata
Melati
Jasminum sambac
Rosmari
Rosmarinus officinalis
Sedap Malam
Polianthes tuberosa


Umbi dan Rimpang
Bangkuang
Pachyrhizus erosus
Gadung
Dioscorea hispida
Ganyong
Canna edulis
Garut
Maranta arundinacea
Jahe
Zingiber officinale
Kunyit
Curcuma longa
Porang
Amorphophallus oncophyllus
Singkong
Manihot esculenta
Suweg
Amorphophallus campanulatus
Ubi Jalar
Ipomoea batatas


Tanaman Liar
Anggrek Tanah
Spathoglottis plicata
Ara
Ficus racemosa
Aur-aur
Commelina diffusa
Bakau
Rhizophora mangle
Bamban
Donax cannaeformis
Bayam Pasir
Cyathula prostrata
Belimbing Tanah
Oxalis barrelieri
Bunga Bintang
Isotoma longiflora
Buni
Antidesma bunius
Cacabean
Ludwigia hyssopifolia
Ceplukan Peru
Physalis peruviana
Ceplukan
Physalis angulata
Eceng Gondok
Eichornia crassipes
Eceng Padi
Monochoria vaginalis
Edelweis
Leontopodium alpinum
Ekor Anjing
Heliotropium indicum
Embun Pagi
Dissotis rotundifolia
Euphorbia Dentata
Euphorbia dentata
Getih-getihan
Rivina humilis
Ilalang
Imperata cylindrica
Kangkung Hutan
Ipomoea fistulosa
Kaso
Saccharum spontaneum
Kayu Pahang
Premna serratifolia
Kigelia
Kigelia africana
Kongea
Congea tomentosa
Kumis Kucing
Orthosiphon stamineus
Mengkrengan
Polygonum barbatum
Mikania
Mikania micrantha
Murbai
Morus alba
Paku Kawat
Lygodium scandens
Paku Laut
Acrostichum aureum
Paku Rasam
Gleichenia linearis
Pandan Besar
Pandanus tectorius
Pandan Laut
Pandanus odoratissimus
Pecut Kuda
Stachytarpheta jamaicensis
Pletekan
Ruellia tuberosa
Pohon Oktopus
Brassaia actinophylla
Putri Malu
Mimosa pudica
Rambusa
Passiflora foetida
Rasberi
Rubus idaeus
Rumput Bebek
Echinochloa colona
Rumput Belulang
Eleusine indica
Rumput Gajah
Pennisetum purpureum
Rumput Merak
Themeda arguens
Rumput Palem
Setaria palmifolia
Sri Pagi
Ipomoea cairica
Tapak Kuda
Ipomoea pes-caprae
Urang Aring
Eclipta alba
Wedelia
Wedelia trilobata


Tanaman industri
Bit
Beta vulgaris
Cengkeh
Syzygium aromaticum
Jarak Kepyar
Ricinus communis
Jarak Pagar
Jatropha curcas
Kakao
Theobroma cacao
Karet
Hevea brasiliensis
Kelapa
Cocos nucifera
Kopi
Coffea arabica
Lada
Piper nigrum
Mimba
Azadirachta indica
Pinus
Pinus merkusii
Rosela
Hibiscus sabdariffa
Sawit Afrika
Elaeis guineensis
Sawit Amerika
Elaeis oleifera
Tebu
Saccharum officinarum
Teh
Camellia sinensis
Tembakau
Nicotiana tabacum


Sayur-sayuran
Bayam Tahun
Amaranthus hybridus
Beligo
Benincasa hispida
Belinjo
Gnetum gnemon
Beluntas
Pluchea indica
Bit
Beta vulgaris
Buncis
Phaseolus vulgaris
Daun Gedi
Abelmoschus manihot
Gambas
Luffa acutangula
Genjer (Jw)
Limnocharis flava
Jamur Shiitake
Lentinula edodes
Kacang Babi
Vicia faba
Kacang Biduk
Dolichos lablab
Kacang Bindi
Abelmoschus esculentus
Kacang Gude
Cajanus cajan
Kacang Panjang
Vigna sinensis
Kangkung Air
Ipomoea aquatica
Kangkung Darat
Ipomoea reptana
Kara Benguk
Mucuna pruriens var. utilis
Katuk
Sauropus androgynus
Kecipir
Psophocarpus tetragonolobus
Kluwih
Artocarpus camansi
Kremah
Alternanthera sessilis
Kubis
Brassica oleracea var. capitata
Labu Siam
Sechium edule
Lobak
Raphanus sativus var. hortensis
Mangkokan
Nothopanax scutellarium
Mentimun
Cucumis sativus
Nangka
Artocarpus heterophyllus
Pare
Momordica charantia
Parsley
Petroselinum crispum var. crispum
Petai Cina
Leucaena leucocephala
Petai
Parkia speciosa
Ranti
Solanum nigrum
Sawi Daging
Brassica juncea
Sawi Hijau
Brassica rapa var. parachinensis
Selada
Lactuca sativa
Terubuk
saccharum edule
Terung Belanda
Cyphomandra betacea
Terung Pipit
Solanum torvum
Terung
Solanum melongena
Tomat
Solanum lycopersicum
Turi
Sesbania grandiflora
Wortel
Daucus carota


Rempah-Rempah
Asam Jawa
Tamarindus indica
Bawang Bombay
Allium cepa
Bawang Daun
Allium fistulosum
Bawang Merah
Allium cepa var. aggregatum
Bawang Putih
Allium sativum
Cabai Rawit
Capsicum frutescens
Cabai
Capsicum annum
Cengkeh
Syzygium aromaticum
Jahe
Zingiber officinale
Kayu Manis
Cinnamomum burmannii
Kemiri
Aleurites moluccana
Kencur
Kaempferia galanga
Kunyit
Curcuma longa
Lada
Piper nigrum
Lengkuas Merah
Alpinia purpurata
Lengkuas
Alpinia galanga
Pala
Myristica fragrans
Seledri
Apium graveolens
Wijen
Sesamum indicum


Buah-Buahan
Alpukat
Persea americana
Anggur
Vitis vinifera
Apel
Pyrus malus
Belimbing Manis
Averrhoa carambola
Belimbing Wuluh
Averrhoa bilimbi
Bidara
Zizyphus mauritiana
Buah Mentega
Diospyros blancoi
Buah Naga
Hylocereus undatus
Buah Samarinda
Carissa carandas
Buni
Antidesma bunius
Ceremai
Phyllanthus acidus
Cimarrona
Annona montana
Delima
Punica granatum
Dewandaru
Eugenia uniflora
Duku
Lansium domesticum
Durian
Durio zibethinus
Duwet
Syzygium cumini
Granadila Merah
Passiflora coccinea
Jambu Air
Eugenia aquea
Jambu Batu
Psidium guajava
Jambu Bol
Syzygium malaccense
Jambu Monyet
Anacardium occidentale
Jeruk Kingkit
Triphasia trifolia
Jeruk Manis
Citrus sinensis
Jeruk Nipis
Citrus aurantifolia
Jeruk Pepaya
Citrus medica var. proper
Jeruk Purut
Citrus hystrix
Kawista
Limonia acidissima
Kedondong
Spondias dulcis
Kelapa
Cocos nucifera
Kemiri
Aleurites moluccana
Kenari Jawa
Canarium commune
Kepel
Stelechocarpus burahol
Kepuh
Sterculia foetida
Kersen
Muntingia calabura
Kiwi
Actinidia chinensis
Kluwih
Artocarpus camansi
Kurma
Phoenix dactylifera
Labu Kuning
Cucurbita moschata
Lokwat
Eriobotrya japonica
Lontar
Borassus flabellifer
Maja
Aegle marmelos
Mangga
Mangifera indica
Manggis
Garcinia mangostana
Markisa Besar
Passiflora quadrangularis
Markisa
Passiflora edulis
Matoa
Pometia pinnata
Melon
Cucumis melo var. reticulatus
Melon Makuwa
Cucumis melo var. makuwa
Mundu
Garcinia dulcis
Murbai
Morus alba
Nam Nam
Cynometra cauliflora
Nangka
Artocarpus heterophyllus
Nenas
Ananas comosus
Pepaya
Carica papaya
Pepino
Solanum muricatum
Pisang
Musa paradisiaca
Rambutan
Nephelium lappaceum
Rasberi
Rubus idaeus
Salak
Salacca zalacca
Salam
Syzygium polyanthum
Sawo Hijau
Chrysophyllum cainito
Sawo Kecik
Manilkara kauki
Sawo Manila
Manilkara zapota
Simpur Pilipina
Dillenia philippinensis
Simpur
Dillenia indica
Sirsak
Annona muricata
Srikaya
Annona squamosa
Stroberi
Fragaria x ananassa
Sukun
Artocarpus communis
Tomat
Solanum lycopersicum


Tanaman Obat
Adas Manis
Anethum graveolens
Alamanda
Allamanda cathartica
Anggur
Vitis vinifera
Apel
Pyrus malus
Aren
Arenga pinnata
Asam Jawa
Tamarindus indica
Bakungan
Hymenocallis litthoralis
Bamban
Donax cannaeformis
Bambu Rejeki
Dracaena sanderiana
Bambu Tali
Asparagus cochinchinensis
Bandotan
Ageratum conyzoides
Bangkuang
Pachyrhizus erosus
Bangun-bangun
Coleus amboinicus
Bawang Daun
Allium fistulosum
Bawang Merah
Allium cepa var. aggregatum
Bawang Putih
Allium sativum
Bawang Sebrang
Zephyranthes candida
Beligo
Benincasa hispida
Belimbing Manis
Averrhoa carambola
Belimbing Tanah
Oxalis barrelieri
Belimbing Wuluh
Averrhoa bilimbi
Melinjo
Gnetum gnemon
Beluntas
Pluchea indica
Beringin
Ficus benjamina
Biduri
Calotropis gigantea
Binahong
Anredera cordifolia
Bintangur
Calophyllum inophyllum
Boroco
Celosia argentea
Bratawali
Tinospora crispa
Buah Naga
Hylocereus undatus
Buah Samarinda
Carissa carandas
Bugenvil
Bougainvillea glabra
Bunga Bintang
Isotoma longiflora
Bunga Jepun
Nerium oleander
Bunga Kala
Zantedeschia aethiopica
Bunga Kancing
Gomphrena globosa
Bunga Krisan
Chrysanthemum x grandiflorum
Bunga Lilin
Pachystachys lutea
Bunga Matahari
Helianthus annuus
Bunga Pagoda
Clerodendron paniculatum
Bunga Pukul Empat
Mirabilis jalapa
Bungur
Lagerstroemia speciosa
Buni
Antidesma bunius
Cabai Rawit
Capsicum frutescens