|
Klasifikasi:
Regnum: Plantae
Divisio: Spermarophyta
Sub Divisio: Angiospermae
Kelas: Dicotyledoneae
Sub Kelas: Apetalae
Bangsa: Caryophyllales/Centrospermae
Famili: Amaranthaceae
Genus: Celosia
Spesies: Celosia
cristata L.
Celosia
berasal dari bahasa Yunani ‘kelos’ yang berarti terbakar karena penampilannya
menyerupai bunga api. Termasuk dalam keluarga Amarathanceae, Celosia
dulunya merupakan tanaman liar yang tumbuh luas di daerah Amerika
Selatan, Afrika tropis dan Asia Tenggara. Sekarang Celosia lebih banyak
ditanam sebagai tanaman hias di halaman.
Celosia
Century, seperti pada foto, berasal dari Afrika dan lebih menyerupai bunga
api. Warna bunganya bermacam- macam mulai dari merah, kuning dan oranye.
Salah satu varietas Celosia di Indonesia dikenal dengan nama Jengger Ayam
(Celosia cristata)
berasal dari India Utara. Ketika mekar bunganya akan berbentuk seperti
jengger ayam dan termasuk tanaman obat.
Jengger Ayam
dimanfaatkan untuk penyakit hipertensi, infeksi saluran kemih, wasir, haid
tidak teratur, radang usus dan lambung. Untuk pengobatan, bunga Jengger Ayam
direbus dengan air dan setelah itu dimimun. Kandungan kimia dan
efek farmakologis tanaman ini berkhasiat sebagai anti peradangan dan
menghentikan pendarahan.
Selain bunga,
daun Jengger Ayam pun dapat dimanfaatkan sebagai obat luka. Sebagai konsumsi
masakan dengan cara merebus pucuk daunnya yang muda. Teksturnya lembut
dan rasanya seperti bayam. Perbanyakan tanaman ini adalah dengan biji/
benih. Bunga dapat bertahan hingga 10 minggu tergantung kondisi tanah. Meski
begitu, tanaman ini lebih menyukai kondisi tanah yang lembap.
|
Jumat, 29 Juni 2012
Celosia cristata L.
Rabu, 27 Juni 2012
Antonie Philips van Leeuwenhoek
Antonie van Leeuwenhoek
|
|
Lahir
|
Thonius Philips van Leeuwenhoek
24 Oktober 1632 Delft, Belanda |
Meninggal
|
30 Agustus 1723 (umur 90)
Delft, Belanda |
Kewarganegaraan
|
Belanda
|
Pekerjaan
|
Ilmuwan
|
Antonie
Philips van Leeuwenhoek (24 Oktober
1632 – 30 Agustus
1723) adalah ilmuwan Belanda yang
berasal dari Delft.
Ia disebut sebagai
"Bapak Biologi", dan dianggap sebagai mikrobiolog
pertama. Ia terlahir sebagai putra pembuat keranjang. Ia terkenal atas pengembangan mikroskop dan kontrobusinya terhadap didirikannya mikrobiologi. Ia adalah orang
pertama yang mengamati dan mendeskripsikan organisme bersel satu.
Sumber:
id.wikipedia.org/wiki/Antony_van_Leeuwenhoek
Selasa, 26 Juni 2012
Gliricidia sepium (Gamal)
|
Gamal (Gliricidia sepium) adalah nama sejenis perdu dari kerabat
polong-polongan (suku Fabaceae alias Leguminosae). Sering digunakan sebagai
pagar hidup atau peneduh, perdu atau pohon kecil ini merupakan salah satu
jenis leguminosa multiguna yang terpenting setelah lamtoro (Leucaena
leucocephala). Nama-nama lainnya adalah kerside, gliriside
(kolokial), sliridia, liriksidia (Jw.); kh’è: no:yz, kh’è: fàlangx
(Laos (Sino-Tibetan)); bunga Jepun (Mly.); kakawate (Filipina);
madre de cacao (Portugis); mata raton (Honduras); dan gliricidia,
Nicaraguan coffee shade (Ingg.).
Pepagan (kulit batang)
gamal
Perdu
atau pohon kecil, biasanya bercabang banyak, tinggi 2–15m dan gemang (besar batang)
15-30 cm. Pepagan coklat keabu-abuan hingga keputih-putihan, kadang kala
beralur dalam pada batang yang tua. Menggugurkan daun di musim kemarau. Daun
majemuk menyirip ganjil, panjang 15-30 cm; ketika muda dengan rambut-rambut
halus seperti beledu. Anak daun 7–17 (-25) pasang yang terletak berhadapan
atau hampir berhadapan, bentuk jorong atau lanset, 3-6 cm × 1.5-3 cm, dengan
ujung runcing dan pangkal membulat. Helaian anak daun gundul, tipis, hijau di
atas dan keputih-putihan di sisi bawahnya.
Pemanfaatan
Gamal
terutama ditanam sebagai pagar hidup, peneduh tanaman (kakao, kopi, teh),
atau sebagai rambatan untuk vanili dan lada. Perakaran gamal merupakan
penambat nitrogen yang baik. Tanaman ini berfungsi pula sebagai pengendali
erosi dan gulma terutama alang-alang. Namanya dalam bahasa Indonesia, gamal,
merupakan akronim dari: ganyang mati alang-alang. Bunga-bunga gamal merupakan pakan lebah yang baik, dan
dapat pula dimakan setelah dimasak.
Daun-daun gamal mengandung banyak protein dan mudah
dicernakan, sehingga cocok untuk pakan ternak, khususnya ruminansia.Daun-daun
dan rantingnya yang hijau juga dimanfaatkan sebagai mulsa atau pupuk hijau
untuk memperbaiki kesuburan tanah.
Gamal
merupakan sumber kayu api yang baik; terbakar perlahan dan menghasilkan
sedikit asap, kayu gamal memiliki nilai kalori sekitar 4900 kcal/kg. Kayu
terasnya awet dan tahan rayap, dengan BJ antara 0,5- 0,8, kayu ini baik untuk
membuat perabot rumah tangga, mebel, konstruksi bangunan, dan lain-lain.
Daun-daun,
biji dan kulit batang gamal mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia
dan ternak, kecuali ruminansia. Dalam jumlah kecil, ekstrak bahan-bahan itu
digunakan sebagai obat bagi berbagai penyakit kulit, rematik, sakit kepala,
batuk, dan luka-luka tertentu. Ramuan bahan-bahan itu digunakan pula sebagai
pestisida dan rodentisida alami (gliricidia berasal dari bahasa Latin yang
berarti kurang lebih racun tikus). Gamal menggugurkan daun di musim kemarau.
Ekologi dan perbanyakan
Habitat asli gamal adalah hutan gugur daun tropika, di
lembah dan lereng-lereng bukit, sering di daerah bekas tebangan dan belukar. Pada elevasi 0-1600 m dpl. Gamal bisa diperbanyak dengan biji.
Biji-biji itu, khususnya yang segar (baru), dapat ditanam tanpa perlakuan
pendahuluan, langsung di lahan atau di persemaian.
Cara lain ialah dengan menanam stek batangnya, panjang
maupun pendek. Stek panjang sepanjang 1–2,5 m dan dengan diameter 6–10 cm,
diruncingkan kedua ujungnya dan digores-gores potongan sebelah bawahnya untuk
merangsang tumbuhnya akar. Stek panjang ditanam sedalam lk 50 cm agar kuat. Stek pendek 30 – 50 cm panjangnya dan diperlakukan
serupa dengan stek panjang. Stek pendek ditanam lebih kurang sepertiganya
dalam tanah.
Persebaran
Tumbuhan ini asli Meksiko, Amerika Tengah, Hindia
Barat, Kolombia. Diintroduksi dan mengalami naturalisasi di pelbagai daerah,
termasuk Indonesia. Berikut pedoman yang
bisa diikuti dalam budidaya daun gamal:
1) Penanaman
Penanaman dilakukan
dengan stek batang atau biji, (biji disarankan
untuk perakaran yang dalam). Stek batang yang baik berasal dari batang bawah, dan tengah yang telah berumur lebih dari 12 bulan. Diameter stek 3-5 cm dan panjang stek 50 cm. Stek terlebih dahulu disemaikan dalam kantong plastik. Setelah bertunas 15-20 cm tingginya (berumur 2-3 bulan) dapat ditanam langsung di lapangan. Jarak tanam dengan jarak antara barisan 1-2 m. Waktu tanam dianjurkan pada awal musim hujan.
2) Panen
Pemotongan pertama
pohon gamal dianjurkan setelah tanaman berumur 1
tahun. Selang waktu atau interval pemotongan selanjutnya setiap 3 bulan sekali. Rata-rata produksi hijauan segar berkisar 2-5 kg per potong per pohon.
3) Pemupukan
Pemberian pupuk
kandang atau pupuk buatan seperti pupuk P sebanyak 35-40 kg per hektar per
tahun.
4) Pemberian pada
ternak
Untuk pertama kali,
ternak umumnya menolak akan tetapi setelah dibiasakan (dengan cara pemberian
bertahap) maka berikan gamal dalam bentuk layu.
5) Banyaknya pemberian
daun gamal
a. Pemberian daun
gamal secara bebas sebagai tambahan pakan dasar rumput.
b. Pemberian gamal baik bagi pertumbuhan ternak ruminansia. |
Label:
biojojo,
Famili Apocynaceae
Langganan:
Postingan (Atom)